Our Slice of Romance

Februari selalu bernuansa dadu. Bunga. Pita. Cokelat. Makan malam romantis. Kecupan manis. Bisa juga sepasang macchiato atau teh hangat untuk sepasang sahabat. Atau, semangkuk besar pasta dan sederetan film di ruang keluarga. Atau, bagaimana jika setumpuk roman di sisi tempat tidur?

Kami menyukai kisah cinta. Sangat. Barangkali, sebagian besar buku yang kami baca bertema cinta. Seperti kebanyakan perempuan, kami senang membayangkan lelaki sempurna, pertemuan yang tidak disangka-sangka, obrolan hangat yang memancing senyum dan rona merah di pipi, janji seumur hidup, dan kata-kata “bahagia selama-lamanya” di lembar terakhir.

Nah. Bulan ini, kami ingin berbagi salah satu buku romantis kesayangan kami. Ada sedikit cerita mengenai mengapa kami menyukainya, tentang cinta yang ada di dalamnya, dan bagaimana kami berkenalan dengan kisah itu, dan apa pengaruhnya bagi kami.

Continue reading “Our Slice of Romance”

Mengintip Timbunan Buku Ijul

me in the library bandung
Ijul di ZOE Bandung

Pembaca-pembaca novel populer tentu mengenal Ijul sang pemilik blog Fiksi Metropop. Resensi-resensinya sering dijadikan referensi dalam memilih bacaan. Kegiatan membaca pun menjadi lebih asyik dengan berbagai kegiatan yang dia adakan.

Saya sendiri mengetahui nama dan blog Ijul sejak lama, tetapi baru satu tahun belakangan ini punya kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi langsung dengannya. Sebagai pembaca, saya pribadi mengagumi Ijul. Saya selalu takjub akan semangat Ijul dalam membaca, meresensi, dan menjalankan blog. Dan, saya punya sejumlah pertanyaan tentang dirinya.

Karena itu, saya terpikir untuk mengajaknya mengobrol di Taste Life Twice. Saya dan Ayu memang ingin menampilkan profil sejumlah pembaca. Jadi, Taste Life Twice tidak melulu membahas siapa yang ada di balik proses pembuatan buku, tetapi juga siapa yang menikmati buku tersebut. Menurut kami, sudah waktunya pembaca menjadi sorotan di dunia buku.

Nah, siap mengobrol bersama saya dan Ijul?
Continue reading “Mengintip Timbunan Buku Ijul”

Satu Jam yang Magis

french pink

74 hal. | Grasindo, 2014

Saya sedang membaca 1Q84. Tuhan tahu seberapa tebal buku Haruki Murakami itu. Di pertengahan bagian kedua, saya merasa membutuhkan udara segar dan ingin mengganti bacaan sejenak. Tidak boleh bacaan yang panjang karena saya tidak ingin meninggalkan 1Q84 terlalu lama. Tidak boleh terlalu rumit pula karena bisa-bisa nanti saya lupa pada apa yang terjadi terhadap Tengo dan Aomame.

Nah, pas sekali, Prisca Primasari baru saja merilis French Pink. Sebuah novella tujuh puluh empat halaman. Dan, sebenarnya saya sudah tertarik pada buku ini sejak obrolan kami di Malang pada akhir Oktober. Ketika itu, Prisca sedikit bercerita kepada saya mengenai buku ini dan hal-hal yang menginspirasi kisah di dalamnya: Jiyugaoka, sebuah distrik bernuansa Eropa di Tokyo, dan shinigami sang pencabut nyawa.
Continue reading “Satu Jam yang Magis”