[D.I.Y] Recycled Notepad

IMG_0788
Di atas meja saya di kantor, ada satu kotak berwarna hijau yang saya isi dengan tumpukan kertas bekas yang berstatus ‘dibuang sayang’. Saya kerap menggunakannya setiap kali ingin mencatat sesuatu dan tidak bisa menemukan agenda yang terkadang menyelip entah di mana. Tapi, kebiasaan buruk saya adalah setiap kali selesai mencatat di kertas bekas tersebut saya tumpuk begitu saja di atas meja atau saya selipkan di dalam buku yang ada di atas meja. Akibatnya saya harus mencari-cari kembali saat membutuhkan catatan itu.

Terinspirasi dengan adik saya yang hobi mendaur ulang kertas bekas di kantornya menjadi notes-notes mini yang bisa ia kantongi, saya membuat benda yang sama, namun dengan sentuhan yang lebih manis dan tidak berukuran mini karena akan saya letakkan di kantor. Saya yakin sudah banyak orang yang mendaur ulang kertas-kertas bekas menjadi notepad seperti ini, tapi tidak ada salahnya berbagi, bukan? 🙂
Continue reading “[D.I.Y] Recycled Notepad”

Conflict in Fiction

pict TLT4 560

Saat saya akan menulis novel, konflik adalah hal yang terpikir pertama. Yah, terkadang, karakter muncul terlebih dahulu. Sejujurnya, saya bukan tipe penulis yang senang menampilkan konflik besar dalam novel-novel saya. Sepertinya, saya lebih suka menceritakan konflik internal, sesuatu yang sebenarnya berasal dari kegelisahan saya.

Tetapi, marilah kita bahas beberapa tipe konflik yang bisa ditulis dalam novel. Sebelum memulai, saya ingin mengungkapkan hal ini. Ini pemikiran saya.

Penulis tidak mengarang konflik. Dia menganalisis, mengamati variabel-variabel, lalu merumuskan kesimpulan. Seperti pengamat. Intinya, konflik bukan sesuatu yang diada-adakan. Konflik muncul dengan sendirinya. Apa yang membuatnya muncul? Itu yang akan kita bahas.
Continue reading “Conflict in Fiction”

I Yam What I Yam

 

IMG_20140923_083834_editPernah seorang penulis pemula bertanya kepada saya, “Buku seperti apa yang sedang laris saat ini? Apa trennya?”

Saya menjawab, “Novel bernuansa Korea, mungkin. Tapi, yang paling laris dari masa ke masa–menurut saya–adalah novel-novel semi biografi yang inspiratif seperti Laskar Pelangi dan Negeri Lima Menara. Itu trennya.” Saya juga bertanya balik, “Kenapa, memangnya?”

Penulis pemula itu mengaku, dia berniat menulis novel yang senada dengan novel-novel laris tersebut.
Continue reading “I Yam What I Yam”