Read A Story With My Ballerina

read a story 2

Sejak Balerina masih berumur tiga bulan, saya sudah membacakannya cerita. Balerina terkena flu dan dia menangis terus-menerus pada malam hari tidak bisa tidur. Untuk menenangkannya, saya menceritakan kisah Pip tikus pemalu yang ingin mendapatkan pelangi. Lalu, ini menjadi kebiasaan kami sebelum dia tidur. Kini, Balerina seorang pencinta buku juga seperti saya. Untuk hadiah ulang tahunnya yang kelima, dia meminta buku.

Di antara banyak buku yang dia miliki, kami paling suka seri Read A Story dari Erlangga. Saya sebut ‘kami’ karena saya selalu bersemangat membacakannya untuk Balerina. Dia memiliki banyak buku dari banyak penerbit. Beberapa bagus. Ada juga yang hem-yah-bolehlah. Nah, Read A Story ini spesial. Ini seri buku cerita anak-anak yang hampir semuanya berupa fabel dan terjemahan dari luar.
Continue reading “Read A Story With My Ballerina”

Cerita di Balik Kesalahan Ketik

typo

Beberapa hari lalu, di Twitter, saya dan beberapa teman sedikit membahas kesalahan ketik. Kami sering menemukan hal tersebut di buku-buku Indonesia. Pasti kalian juga.

Kesalahan ketik terkesan sepele. Saya pribadi menganggap satu-dua kesalahan ketik di sebuah buku merupakan sesuatu yang wajar. Manusiawi. Bahkan, Joko Pinurbo pernah berkata, barangkali seumur hidupnya, seorang penulis tidak akan mendapati bukunya tanpa kesalahan ketik.

Tetapi, kesalahan ketik yang muncul terlalu banyak dalam sebuah buku akan mengganggu keasyikan membaca. Beberapa orang tidak peduli. Sebaliknya, pembaca-pembaca cerewet seperti saya–yang memiliki kecenderungan OCD–akan langsung menutup buku tersebut dan tidak mau membukanya lagi.

Sebagai penulis, saya masih bermimpi menerbitkan buku tanpa kesalahan ketik–meskipun barangkali itu mustahil. Saya masih berusaha. Sekarang, sebagai penulis, saya ingin bercerita mengenai kesalahan ketik. Mengapa itu terjadi. Siapa yang menyebabkan itu terjadi. Dan, bagaimana seharusnya kesalahan ketik di sebuah buku bisa dikurangi.
Continue reading “Cerita di Balik Kesalahan Ketik”

Our Slice of Romance

Februari selalu bernuansa dadu. Bunga. Pita. Cokelat. Makan malam romantis. Kecupan manis. Bisa juga sepasang macchiato atau teh hangat untuk sepasang sahabat. Atau, semangkuk besar pasta dan sederetan film di ruang keluarga. Atau, bagaimana jika setumpuk roman di sisi tempat tidur?

Kami menyukai kisah cinta. Sangat. Barangkali, sebagian besar buku yang kami baca bertema cinta. Seperti kebanyakan perempuan, kami senang membayangkan lelaki sempurna, pertemuan yang tidak disangka-sangka, obrolan hangat yang memancing senyum dan rona merah di pipi, janji seumur hidup, dan kata-kata “bahagia selama-lamanya” di lembar terakhir.

Nah. Bulan ini, kami ingin berbagi salah satu buku romantis kesayangan kami. Ada sedikit cerita mengenai mengapa kami menyukainya, tentang cinta yang ada di dalamnya, dan bagaimana kami berkenalan dengan kisah itu, dan apa pengaruhnya bagi kami.

Continue reading “Our Slice of Romance”

Writing in Space and Time

IMG_20141010_091840

Seringnya, saat menulis–novel atau cerpen, kita tidak berpikir terlalu banyak mengenai waktu dan ruang. Dua hal tersebut kita jadikan elemen sekunder dalam cerita, sekadar latar belakang. Kita membiarkan keduanya bergerak mengikuti perkembangan konflik secara pasif.

Tetapi, sebenarnya, waktu dan ruang bisa lebih dari sekadar latar belakang. Waktu dan ruang bisa menggigit, bisa menjadi elemen penting yang memengaruhi elemen-elemen lain.

Barangkali, kalian sudah tahu. Atau, paling tidak, menemukan hal tersebut dalam sebuah buku. Tidak sedikit penulis yang menggunakan pergerakan waktu dan ruang untuk menciptakan struktur dan kesatuan cerita. Mereka fokus pada periode atau tempat tertentu. Ini memberi mereka keuntungan. Ketegangan hadir secara lebih dramatis.
Continue reading “Writing in Space and Time”

Mengintip Timbunan Buku Ijul

me in the library bandung
Ijul di ZOE Bandung

Pembaca-pembaca novel populer tentu mengenal Ijul sang pemilik blog Fiksi Metropop. Resensi-resensinya sering dijadikan referensi dalam memilih bacaan. Kegiatan membaca pun menjadi lebih asyik dengan berbagai kegiatan yang dia adakan.

Saya sendiri mengetahui nama dan blog Ijul sejak lama, tetapi baru satu tahun belakangan ini punya kesempatan untuk bertemu dan berinteraksi langsung dengannya. Sebagai pembaca, saya pribadi mengagumi Ijul. Saya selalu takjub akan semangat Ijul dalam membaca, meresensi, dan menjalankan blog. Dan, saya punya sejumlah pertanyaan tentang dirinya.

Karena itu, saya terpikir untuk mengajaknya mengobrol di Taste Life Twice. Saya dan Ayu memang ingin menampilkan profil sejumlah pembaca. Jadi, Taste Life Twice tidak melulu membahas siapa yang ada di balik proses pembuatan buku, tetapi juga siapa yang menikmati buku tersebut. Menurut kami, sudah waktunya pembaca menjadi sorotan di dunia buku.

Nah, siap mengobrol bersama saya dan Ijul?
Continue reading “Mengintip Timbunan Buku Ijul”