Step Up Your Game With Jia Effendie

jia article
Jia Effendie (kiri) sedang memberikan konsultasi kepada penulis.

Sore itu, saya mencari Jia Effendie di Hotel Morissey. Jia sedang di Jakarta dan kami sudah lama tidak bertemu sejak Walking After You. Jadi, walaupun tahu Jia sibuk, saya memintanya–atau boleh juga disebut memaksanya–menyediakan waktu agar kami bisa mengobrol barang satu atau dua jam.

Saya mengenal Jia lewat GagasMedia, saat dia masih menjadi editor di sana. Kami bekerja sama dua kali, untuk buku London: Angel dan Last Forever; dan sampai sekarang saya masih berterima kasih atas bantuan Jia untuk dua buku tersebut. Kini, Jia bekerja secara lepas.

Tetapi, sesungguhnya sore itu saya mencari Jia bukan semata-mata untuk melepas kangen. Saya–seperti Nick Wilde–punya maksud terselubung. Beberapa bulan belakangan, saya memperhatikan Jia dan mengetahui bahwa ia membuka jasanya lebih luas.

Continue reading “Step Up Your Game With Jia Effendie”

Tidak Hanya Untuk Pencinta Kucing

the travelling cat chronicle 2

247 hal. | Doubleday

It’s not the journey that counts, but who is at your side.

Di sampul belakang buku ini, A Waterstone Bookseller berkata, “This is the book I am giving everyone.” Itu benar. Saya mungkin tidak akan bisa memberikan buku ini kepada semua orang–sayangnya, buku ini masih sulit didapatkan. Tetapi, saya akan menyarankannya kepada semua orang. Continue reading “Tidak Hanya Untuk Pencinta Kucing”

Sesuatu Tentang Kertas

Kertas

Belakangan ini, naskah yang panjang adalah sesuatu yang saya hindari. Saya jadi berhati-hati sekali dalam menulis, berusaha hemat dengan kata-kata. Saat menyadari naskah saya menembus halaman keseratus tujuh puluh dan belum ada tanda-tanda akan selesai, saya cemas. Saya semakin cemas saat mengira-ngira jumlah halaman si naskah apabila sudah selesai nanti. Dua ratus.

Dua ratus halaman naskah berarti empat ratus halaman novel. Dan, empat ratus adalah angka minimal. Apa masalahnya? Novel itu, sial benar, akan memiliki harga di atas tujuh puluh ribu rupiah. Itu dua kali harga Orange pada 2008. Mengapa sekarang buku begitu mahal? Jujur, sebagai penulis, saya tidak menyukainya.

Awal Juli yang lalu, saya menerbitkan ulang Orange. Tiga ratus halaman. Harga novel itu, lima puluh ribu rupiah. Selisih tiga bulan, saya menerbitkan Last Forever. Tiga ratus delapan puluh halaman. Harga novel ini, enam puluh sembilan ribu rupiah. Novel ini memang lebih tebal, tetapi yang menyebabkan rentang harga tersebut begitu besar adalah kertas.

Continue reading “Sesuatu Tentang Kertas”

Knacker

Knacker 1

Inspirasi bisa datang dari mana saja–atau siapa saja. Bahkan, dari mereka yang jauh lebih muda, yang seringnya tidak diperhitungkan.

Beberapa waktu lalu, saya mendapat kiriman majalah bernama Knacker. Penampilannya tidak terlalu istimewa, sebenarnya. Saya tidak langsung menyadari bahwa itu adalah majalah. Ukurannya A5 dan desainnya terlalu sederhana. Tata letak isinya pun mentah. Tetapi, setelah membaca apa yang ditulis dalam majalah itu, saya cukup kagum. Wow, pikir saya.
Continue reading “Knacker”

Kita Dalam Film

Selamat Hari Buku Sedunia!

Ini 23 April. Tetapi, entah mengapa saya justru berpikir untuk menulis sesuatu tentang kita. Bukan tentang buku. Kita, pencinta buku dan kata. Dan, saya ingin membahas beberapa film yang sangat dekat dengan obsesi kita. Mengapa film? Selain membaca, saya juga menonton. Bahkan, sebagian tulisan saya terinspirasi dari film karena pada dasarnya saya mudah tergugah oleh hal-hal yang sifatnya visual.

Nah, terkadang, saya menemukan diri saya dalam film-film yang saya tonton. Beberapa di antaranya sangat saya sukai. Ini film-film tersebut, barangkali sama dengan daftar kesukaan kalian.

Dead Poets Society

Dead Poets Society Continue reading “Kita Dalam Film”